
Saatnya Bank Indonesia Memperkuat Foreign Exchange Targeting: Belajar dari Singapura dan Malaysia
A.Y. Eka Putra – Praktisi Ekonomi Global, Perbankan, dan Kebijakan Publik
Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia selalu menjadi momentum penting bagi pelaku pasar. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perubahan kepemimpinan bukan hanya dipandang sebagai pergantian figur, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi efektivitas strategi kebijakan moneter nasional. Sejak 2005 Bank Indonesia menerapkan Inflation Targeting Framework (ITF) sebagai jangkar kebijakan moneter.
Pendekatan ini terbukti meningkatkan kredibilitas bank sentral dan menjaga inflasi pada tingkat yang relatif rendah. Namun tantangan ekonomi saat ini semakin didominasi oleh volatilitas pasar keuangan global, arus modal yang bergerak cepat, dan fluktuasi nilai tukar akibat penguatan dolar Amerika Serikat. Pengalaman Singapura menunjukkan pendekatan yang berbeda. Monetary Authority of Singapore menjadikan pengelolaan nilai tukar sebagai instrumen utama kebijakan moneter. Karena ekonomi Singapura sangat terbuka, stabilitas kurs dinilai lebih efektif untuk mengendalikan inflasi impor dibanding hanya mengandalkan suku bunga.
Strategi tersebut telah menopang stabilitas ekonomi selama bertahun-tahun. Malaysia mengambil pendekatan managed float. Bank Negara Malaysia tidak mematok kurs, tetapi aktif melakukan intervensi ketika volatilitas berlebihan mengganggu stabilitas ekonomi. Dengan demikian, stabilitas nilai tukar memperoleh perhatian yang besar tanpa menghilangkan fleksibilitas pasar. Indonesia tentu tidak dapat menyalin model Singapura. Struktur ekonomi, ukuran pasar domestik, dan karakter perdagangan internasional sangat berbeda.
Namun terdapat pelajaran penting bahwa di era globalisasi keuangan, stabilitas mata uang menjadi fondasi penting bagi stabilitas harga, investasi, dan kepercayaan pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, langkah operasional Bank Indonesia menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap rupiah melalui intervensi pasar valas, penguatan cadangan devisa, pendalaman pasar uang, serta pengembangan instrumen seperti SRBI.
Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar telah menjadi prioritas operasional meskipun targetresmi tetap inflasi. Ke depan, yang diperlukan bukan mengganti Inflation Targeting Framework, melainkan menyempurnakannya. Inflasi tetap menjadi sasaran akhir sesuai mandat undang-undang, sedangkan stabilitas nilai tukar dapat diperkuat sebagai sasaran antara untuk meredam imported inflation, menjaga arus modal, dan memperkuat kredibilitas rupiah.
Pergantian Gubernur Bank Indonesia menjadi momentum untuk menyempurnakan strategi tersebut. Bank sentral masa depan dituntut mampu menjaga inflasi sekaligus membangun kepercayaan terhadap mata uang nasional. Dalam konteks itu, penguatan orientasi foreign exchange targeting sebagai pelengkap Inflation Targeting Framework merupakan gagasan yang layak didiskusikan secara terbuka oleh regulator, akademisi, dan pelaku industri keuangan.
0 Comments