Spread the love

ETIKA DAN LOGIKA MATERIALISME: KETIKA KEPENTINGAN MENGALAHKAN KEBENARAN

A.Y. Eka Putra — Praktisi Ekonomi Global, Perbankan, dan Kebijakan Publik

Di tengah dinamika modernitas, masyarakat dihadapkan pada realitas yang kerap luput disadari: dominasi logika materialisme dalam kehidupan sosial. Uang dan kepentingan tidak lagi sekadar alat, melainkan telah menjadi standar utama dalam menentukan benar dan salah.

Fenomena ini melampaui ranah ekonomi dan memasuki wilayah etika. Nilai moral yang seharusnya menjadi fondasi perilaku perlahan tergeser oleh kalkulasi untung-rugi. Kebenaran tidak lagi berdiri sebagai prinsip, melainkan dinegosiasikan berdasarkan manfaat.

Dampaknya bersifat sistemik. Relasi sosial mengalami reduksi makna—kepercayaan digantikan kepentingan, loyalitas berubah menjadi transaksi. Dalam dunia profesional, meritokrasi melemah dan sering kali tergantikan oleh kedekatan serta pengaruh.

Institusi pun kehilangan integritasnya. Hukum dapat dinegosiasikan, kebijakan dapat diarahkan, dan jabatan berubah menjadi instrumen akumulasi keuntungan. Pada titik ini, keadilan hanya menjadi narasi formal tanpa substansi. Lebih jauh, manusia mengalami kehampaan eksistensial. Pencapaian materi tidak selalu menghadirkan ketenangan, karena makna hidup tidak dapat direduksi menjadi angka dan kepemilikan.

Sebaliknya, jika kita melihat negara-negara yang telah mencapai kemakmuran, terdapat karakter masyarakat yang relatif berbeda. Mereka menempatkan integritas sebagai fondasi utama, menghargai sistem di atas individu, serta menjunjung tinggi kepercayaan sebagai modal sosial. Transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi menjadi bagian dari budaya, bukan sekadar regulasi.

Di lingkungan tersebut, uang tetap penting, tetapi bukan penentu nilai moral. Kompetensi dihargai, aturan ditegakkan, dan perbedaan pendapat dianggap sebagai bagian dari proses penyempurnaan, bukan ancaman. Transformasi menuju kondisi demikian menuntut perubahan cara berpikir. Materi harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. Kebenaran harus kembali menjadi standar utama, bukan kepentingan. Tanpa reposisi nilai, kemajuan hanya akan bersifat semu—tampak di permukaan, namun rapuh di dalam.

Etika dan logika materialisme, pada akhirnya menjadikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tumbuh, berkembang, dan membesar—layaknya pohon beringin yang kokoh dan rimbun di tengah kehidupan. Akarnya menjalar dalam diam, batangnya menguat oleh kepentingan, dan daunnya menaungi relasi-relasi semu yang tampak teduh, namun sesungguhnya menutup cahaya kebenaran.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *