
Belajar dari City of London: Ketika Utang Menjadi Instrumen Kemajuan Bangsa
Oleh: A.Y. Eka Putra
Praktisi Ekonomi Global, Perbankan, dan Kebijakan Publik
Di jantung Kota London terdapat sebuah kawasan kecil yang dikenal sebagai City of London atau The Square Mile. Luasnya hanya sekitar 2,9 kilometer persegi, tetapi pengaruhnya menjangkau hampir seluruh sistem keuangan dunia. Selama lebih dari tiga abad, kawasan ini menjadi tempat bertemunya pemerintah, bank sentral, perbankan internasional, investor, dan pasar modal dalam menggerakkan roda perekonomian global.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara maju membiayai pembangunan melalui penerbitan surat utang negara. Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan berbagai negara Eropa menggunakan pembiayaan tersebut untuk membangun infrastruktur, memperkuat industri, membiayai inovasi, hingga menghadapi masa perang dan krisis. Utang menjadi instrumen pembangunan ketika diarahkan pada sektor-sektor yang menghasilkan nilai tambah ekonomi.
Namun sejarah juga mengajarkan bahwa tidak semua utang menghasilkan kemajuan. Negara yang menggunakan utang untuk belanja yang tidak produktif, tata kelola yang lemah, atau kebijakan fiskal yang tidak berkelanjutan akan menghadapi beban yang semakin berat. Yang menentukan bukan besarnya utang, melainkan kualitas pengelolaannya. Hingga saat ini, City of London tetap menjadi salah satu pusat perdagangan valuta asing, obligasi, pembiayaan internasional, asuransi, dan manajemen investasi terbesar di dunia.
Meskipun menghadapi persaingan dari New York, Singapura, dan Hong Kong, eksistensinya tetap bertahan karena dibangun di atas fondasi kepercayaan, kepastian hukum, tata kelola yang kuat, dan profesionalisme. Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukanlah meniru besarnya utang negara maju, melainkan membangun ekosistem yang mampu menciptakan kepercayaan investor, memperkuat pasar keuangan domestik, menjaga disiplin fiskal, dan memastikan setiap rupiah pembiayaan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
Pada akhirnya, sejarah City of London mengingatkan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari besarnya aset atau utangnya, tetapidari kemampuan mengubah pembiayaan menjadi produktivitas, produktivitas menjadi kesejahteraan, dan kesejahteraan menjadi kepercayaan. Dalam ekonomi modern, kepercayaan adalah modal yang paling berharga.
0 Comments