A.Y. Eka Putra – Pemerhati Ekonomi, Perbankan, dan Kebijakan Publik

“Stabilitas pasar tidak dijaga oleh tombol jeda, tetapi oleh fondasi kepercayaan.”
Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot mendekati delapan persen dalam satu
sesi perdagangan, publik melihat layar merah dan grafik menukik tajam. Bursa menghentikan
perdagangan sementara. Sunyi sesaat tercipta. Namun di balik jeda itu, pertanyaan mendasar
menggantung: apakah pasar benar-benar tenang, atau hanya dipaksa berhenti bergerak?
Dalam sehari, nilai transaksi melonjak ke kisaran puluhan triliun rupiah. Puluhan miliar lembar
saham berpindah tangan. Investor asing tercatat melepas saham bernilai triliunan rupiah dalam
waktu singkat. Ini bukan pergerakan normal. Ini adalah kombinasi tekanan sentimen global,
arus modal lintas negara, dan kegelisahan domestik yang bertemu pada satu titik rapuh:
kepercayaan.
Pasar modal modern tidak semata digerakkan oleh laporan keuangan, rasio laba, atau proyeksi
pertumbuhan. Ia digerakkan oleh persepsi risiko. Ketika persepsi memburuk, harga jatuh lebih
cepat daripada fundamental berubah. Di sinilah efek bola salju terbentuk: aksi jual memicu
penurunan harga, penurunan harga memicu ketakutan lanjutan, dan ketakutan melahirkan
gelombang jual berikutnya.
Saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi episentrum tekanan.
Bobot kapitalisasinya yang dominan dalam indeks membuat setiap koreksi di saham ini
langsung mengguncang IHSG. Saham sektor properti dan pertambangan seperti BKSL dan
BRMS ikut tertekan, memperlihatkan bahwa pelemahan bersifat luas. Pasar tidak memilih
sektor, pasar melepas risiko.
Fenomena ini memperlihatkan satu fakta struktural: pasar modal Indonesia masih sangat
sensitif terhadap arus modal asing. Ketika investor global menurunkan eksposur pada negara
berkembang akibat perubahan persepsi risiko, pasar domestik langsung merasakan
dampaknya. Dalam hitungan jam, dana keluar dalam jumlah besar mampu menggeser harga,
memukul indeks, dan membentuk narasi krisis.
Trading halt memang penting. Ia seperti rem darurat yang mencegah kendaraan meluncur
tanpa kendali. Tetapi rem darurat bukan solusi jangka panjang. Ia menghentikan waktu, bukan
menyelesaikan sebab. Jika kepercayaan tidak dipulihkan, pasar hanya menunggu sesi
berikutnya untuk melanjutkan kepanikan.
Di sinilah regulator diuji. Stabilisasi pasar tidak cukup dengan mekanisme teknis. Pasar
menunggu sinyal kebijakan yang lebih substansial. Transparansi struktur kepemilikan saham
harus diperkuat. Keterbukaan informasi emiten harus lebih disiplin. Pengawasan terhadap
praktik tata kelola perlu diperketat agar investor yakin bahwa risiko yang mereka hadapi adalah
risiko bisnis, bukan risiko ketidakjelasan.
Koordinasi antara otoritas pasar modal, bank sentral, dan pemerintah menjadi krusial. Likuiditas
sistem harus dijaga agar tekanan pasar tidak menjalar ke sektor keuangan riil. Namun lebih
penting dari likuiditas adalah pesan kebijakan: bahwa sistem perbankan tetap solid, kebijakan
fiskal terkendali, dan arah moneter kredibel. Tanpa pesan ini, pasar akan terus bergerak
berdasarkan ketakutan, bukan data.
Gejolak ini juga menyoroti pekerjaan rumah lama: pendalaman investor domestik. Pasar yang
terlalu bergantung pada modal asing ibarat rumah dengan fondasi luar. Ketika angin global
bertiup kencang, bangunan mudah berguncang. Meningkatkan partisipasi investor lokal jangka
panjang, memperluas literasi keuangan, dan mengembangkan produk investasi stabil menjadi
bantalan alami menghadapi gejolak.
Kita perlu jujur bahwa gejolak pasar bukan hanya cerita tentang hari buruk di bursa. Ini adalah
alarm tentang kualitas fondasi pasar modal. Stabilitas finansial tidak dijaga oleh tombol pause,
tetapi oleh kredibilitas kebijakan, tata kelola yang kuat, dan kepercayaan yang konsisten
dibangun.
0 Comments