
A. Y. Eka Putra – Global Observer of Power, Economy and Spiritual Civilization Praktisi Spiritual Modern
Transisi dan Ujian Disiplin
Transisi kepemimpinan fiskal di Indonesia menjadi titik uji apakah disiplin anggaran tetap dijaga sebagai prinsip atau dilenturkan sebagai alat kekuasaan. Batas defisit 3% selama ini menjadi jangkar stabilitas yang menjaga kredibilitas ekonomi nasional.
Konteks ASEAN
Di kawasan ASEAN, disiplin fiskal menunjukkan variasi. Singapura menjaga defisit sangat rendah bahkan surplus. Thailand dan Vietnam relatif moderat. Filipina lebih ekspansif pasca pandemi. Indonesia berada di tengah dengan batas 3% sebagai sinyal kehati-hatian.
Perbandingan Strategis
Indonesia memiliki kerangka fiskal yang jelas, namun tax ratio masih relatif rendah dibanding beberapa negara ASEAN, sehingga ruang fiskal lebih terbatas dan membutuhkan disiplin lebih kuat. Godaan Ekspansi Tekanan pembangunan dan pertumbuhan mendorong ekspansi fiskal. Namun pengalaman regional menunjukkan ekspansi tanpa kontrol meningkatkan risiko utang dan kerentanan.
Risiko dan Kredibilitas
Pasar membaca arah kebijakan. Ketika batas fiskal menjadi fleksibel, kepercayaan berubah menjadi kehati-hatian.
Tekanan Global Suku bunga global, energi, dan nilai tukar mempersempit ruang fiskal. Disiplin menjadi keharusan.
Penutup
Indonesia belum dapat dikatakan mengalami krisis berdasarkan indikator LEI dan CEI yang masih menunjukkan aktivitas ekonomi berjalan. Namun, realitas sosial menunjukkan tekanan nyata. Jumlah kelas menengah menurun, sementara kelompok rentan meningkat. Hal ini mencerminkan melemahnya daya beli dan ketahanan ekonomi masyarakat. Fenomena ini sering diiringi meningkatnya tekanan biaya hidup, terbatasnya kualitas pekerjaan, serta potensi meningkatnya pengangguran dan kemiskinan terselubung. Krisis sering tidak dimulai dari angka makro, melainkan dari penurunan kesejahteraan yang tidak disadari. Defisit adalah batas, namun rapuhnya kelas menengah adalah peringatan.
0 Comments