
Pekalongan – Suasana hangat dan penuh harap menyelimuti Ballroom Hotel Dafam Pekalongan pada Sabtu pagi, 1 Februari 2026. Tepat pukul 08.00 WIB, ratusan pasang mata tertuju ke panggung utama ketika Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-6 Koperasi Jasa LKMS Kasuwari resmi dibuka. Pertemuan yang berlangsung hingga pukul 12.00 WIB ini menjadi tonggak baru perjalanan LKMS Kasuwari: bukan hanya forum pertanggungjawaban, tetapi juga momentum naik kelas dari lembaga keuangan tingkat kecamatan menuju lembaga keuangan syariah komunitas tingkat kota.
Dibuka Pejabat Koperasi, Dihidupkan Tokoh Masyarakat
Rapat dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Koperasi dan UMKM, Ibu Tipuk Prasetryowati, yang hadir didampingi oleh Ibu Zumisroh. Dalam sambutannya, Ibu Tipuk menegaskan bahwa LKMS Kasuwari adalah salah satu contoh koperasi jasa keuangan yang serius membangun tata kelola, memperkuat kepatuhan regulasi, dan konsisten memainkan peran sebagai mitra UMKM dan keluarga pekerja di Pekalongan.
Ia mengapresiasi langkah Kasuwari yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada penguatan kapasitas pengelola, transparansi laporan, dan sinergi dengan komunitas. Pemerintah daerah, tegasnya, membutuhkan lembaga seperti Kasuwari untuk menjadi jembatan antara kebijakan pemberdayaan ekonomi dan kebutuhan lapangan yang nyata.
Suasana menjadi semakin khidmat saat tokoh masyarakat, Bapak Kyai Syuaeb, menyampaikan tausiyah singkat sekaligus sambutan. Beliau mengingatkan bahwa koperasi syariah bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan amanah sosial dan ibadah. Setiap rupiah yang dihimpun dan disalurkan harus dijaga kebersihannya, kejelasan akadnya, dan kebermanfaatannya bagi keluarga-keluarga kecil di Pekalongan. Dengan bahasa sederhana namun mengena, Kyai Syuaeb menegaskan bahwa keberkahan usaha Kasuwari bergantung pada kejujuran, kehati-hatian, dan kepedulian terhadap yang lemah.
RAT ke-6 ini juga terasa istimewa dengan kehadiran Lurah Pringrejo, Bapak Edi Yulis. Dalam penggalan sambutannya, beliau menyampaikan dukungan penuh pemerintah kelurahan terhadap kiprah LKMS Kasuwari di wilayah Pringrejo dan sekitarnya. Ia melihat langsung bagaimana Kasuwari ikut mendorong aktivitas ekonomi warga, mulai dari pedagang kecil, pelaku usaha rumahan, hingga komunitas pendidikan. Menurutnya, keberadaan lembaga keuangan mikro syariah yang dikelola secara profesional akan menjadi pilar penting dalam menjaga daya tahan ekonomi masyarakat di tengah berbagai tantangan.
Pesan Tegas: Amanah Tidak Boleh Dikhianati
Salah satu momen kunci dalam RAT adalah paparan Prof. Ahmad Subagyo selaku Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) sekaligus penggagas pendirian LKMS Kasuwari yang sejak awal didukung oleh komunitas IMFEA. Dengan gaya bertutur yang lugas, beliau mengajak seluruh peserta untuk kembali ke prinsip dasar: kepercayaan anggota adalah modal utama dan tidak boleh sekalipun dikhianati.
Prof. Ahmad menekankan bahwa uang anggota bukan “angka di laporan”, tetapi titipan dari keringat, jerih payah, dan harapan keluarga. Karena itu, amanah harus dijaga dengan dua hal: ketulusan niat dan profesionalitas operasional. Ia mengingatkan pengurus dan pengelola agar tidak terlena dengan status “lembaga sosial”, lalu mengabaikan standar manajemen risiko, pencatatan akuntansi, dan disiplin pelaporan. Justru karena membawa nama syariah, Kasuwari harus menjadi contoh bahwa lembaga berbasis nilai mampu bersaing secara profesional.
Ia juga mengapresiasi IMFEA dan para pegiat microfinance yang sejak awal mendampingi Kasuwari dari sisi desain kelembagaan, kurikulum pelatihan, hingga penguatan strategi bisnis. Sinergi pengetahuan, teknologi, dan spiritualitas inilah, menurutnya, yang menjadikan Kasuwari berbeda dan layak naik ke level berikutnya.
Peluncuran Logo dan Tagline Baru: Energi Identitas Baru
Salah satu sesi yang paling ditunggu peserta adalah peluncuran logo baru LKMS Kasuwari. Di layar besar, visual identitas baru Kasuwari ditampilkan dengan desain yang lebih modern, bersih, dan mudah dikenali. Bersamaan dengan itu, diperkenalkan pula tagline baru: “Melayani Keuangan Keluarga, Membangun Kolaborasi Usaha”.
Tagline ini bukan sekadar kalimat promosi, tetapi cerminan repositioning peran Kasuwari. Pertama, fokus pada “keuangan keluarga” menegaskan bahwa basis utama layanan Kasuwari adalah rumah tangga pekerja, ibu-ibu, dan pelaku usaha mikro yang mengelola ekonomi keluarga sehari-hari. Kedua, semangat “membangun kolaborasi usaha” menunjukkan bahwa Kasuwari tidak ingin berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul jejaring antara anggota, komunitas usaha, marketplace digital, dan lembaga mitra lainnya.
Peluncuran logo dan tagline ini disambut tepuk tangan panjang. Bagi banyak anggota, identitas baru ini menjadi simbol bahwa Kasuwari memasuki babak kedua: dari fase bertahan dan membuktikan diri, kini menuju fase bertumbuh dan memperluas pengaruh positifnya.
Mandat Besar Anggota: Naik Kelas ke Tingkat Kota
Di penghujung acara, setelah laporan pengurus dan pengawas disampaikan serta berbagai masukan anggota didengar, RAT ke-6 mengambil satu keputusan strategis: memberikan mandat tegas kepada pengurus untuk menaikkan kelas LKMS Kasuwari dari lembaga yang berwilayah kecamatan menjadi berwilayah kota.
Mandat ini bukan tanpa dasar. Modal sendiri Kasuwari saat ini telah melampaui Rp1 miliar, sebuah capaian yang menunjukkan keseriusan anggota dalam memperkuat ekuitas dan daya tahan lembaga. Dengan basis modal yang lebih kokoh, Kasuwari dinilai sudah layak memperluas jangkauan layanan ke seluruh wilayah Kota Pekalongan, tentu dengan tetap mematuhi ketentuan OJK dan regulasi terkait.
Keputusan ini memuat konsekuensi ganda. Di satu sisi, peluang tumbuh semakin besar: pasar baru, segmen anggota yang lebih luas, dan ruang kolaborasi yang lebih beragam. Di sisi lain, tanggung jawab pengurus dan pengelola juga meningkat: kualitas manajemen risiko harus naik, sistem digital harus lebih andal, kompetensi SDM harus ditingkatkan, dan standar tata kelola harus menyesuaikan skala yang lebih besar.
RAT menegaskan bahwa kenaikan kelas ini bukan sekadar urusan administratif izin wilayah, tetapi transformasi menyeluruh: dari cara merekrut anggota, merancang produk, melayani nasabah, hingga cara menyusun laporan dan berkomunikasi dengan publik.
Menutup Rapat, Membuka Babak Baru
Menjelang pukul 12.00, suasana ruang sidang masih terasa hangat. Setelah seluruh agenda—dari pembukaan, sambutan, laporan, diskusi, hingga pengambilan keputusan—dituntaskan, RAT ke-6 resmi ditutup. Doa penutup dipanjatkan agar seluruh keputusan hari itu menjadi sumber kebaikan bagi anggota dan masyarakat.
Di luar ruang, para peserta tampak masih saling berbincang, bertukar kartu nama, dan menyusun rencana tindak lanjut informal: ada yang membahas potensi kerja sama payroll, penguatan program tabungan keluarga, hingga peluang pemanfaatan platform digital untuk pemasaran produk anggota. Di antara canda dan obrolan ringan, tersirat keyakinan bahwa Kasuwari sedang berada di jalur yang tepat.
RAT ke-6 di Hotel Dafam Pekalongan akhirnya meninggalkan kesan kuat: koperasi ini bukan lagi sekadar lembaga keuangan kecil di sudut Pringrejo, melainkan embrio bank komunitas syariah yang pelan tapi pasti tengah membangun masa depan keuangan keluarga dan kolaborasi usaha di Kota Pekalongan. Dengan logo baru, tagline baru, dan mandat baru dari anggota, LKMS Kasuwari kini melangkah ke fase berikutnya dengan satu pesan yang terus diulang hari itu: kepercayaan adalah amanah, dan amanah hanya layak di tangan mereka yang siap bekerja jujur, cermat, dan profesional.
0 Comments